Senin, 17 Maret 2014

Officially, bridezillaarrghh~

Mumpung lagi (cukup) luang, akhirnya nulis borongan pagi ini. Saya mau berbagi tentang jalan-jalan kemarin ke pusat kain BTC (Beteng Trade Centre), Solo.Ohya, sementara ini memang mau nyicil bagian kain dulu, karena gedung, foto, catering, dekorasi, dan tata rias belum bisa dipesan karena memang belum ada tanggal yang pasti kapan acara pernikahan saya dilaksanakan. Kalau persiapan kain kan makin lama malah makin matang. :D

Kenapa saya memilih Solo padahal kain-kain di Jogja juga tak kalah lengkap?
Sebenarnya perjalanan ke Solo kemaren adalah dalam rangka survey kain.Tapi kok ya sayang juga kalo gak sekalian nyicil belanja kain, karena nyonya besar pas lagi sempat juga. Dua minggu yang lalu sebenarnya juga saya dan ibu sudah berencana ke Kudus, survey kebaya bordir yang akan dipakai untuk panitia pernikahan nanti. Tapi karena waktunya gak ada, alhasil ditunda dulu. Saya dan ibu memutuskan (sementara) untuk ibu-ibu panitia menggunakan kebaya bordir karena gak ribet dan panas ketika dipakai, tetap elegan, dan bisa dipakai dengan nyaman untuk acara lain selain acara pernikahan saya nantinya.

Akhirnya memutuskan untuk membeli kain untuk kebaya akad nikah terlebih dahulu. Saya memang sudah memutuskan sejak lama, untuk akad nikah warna bajunya wajib putih. Bukan karena apa-apa  tapi agar terasa khas aja sih. Back to konvensional color. :)
Ohya sebelum memutuskan membeli kain, saya sudah cukup ngobrol dengan penjahit langganan saya, mba Tiwi tentang model dan ukuran kain yang diperlukan. Hal itu cukup meminimalisir kesalahan yang kita lakukan saat membeli kain yang kita inginkan terlebih jika tidak ditemani oleh penjahit yang akan mengeksekusi baju kita. Beruntung jika penjahit kamu mau menemani kamu mencari segala keribetan mencari bahan-bahan tersebut. Untungnya juga saya selama ini sudah akrab dengan toko kain.

Sedikit melenceng, saya akan menceritakan tentang pengalaman kakak ipar saya kemarin. Namanya juga baru pertama kali menikah, pasti belum ada pengalaman yang cukup, terlebih kakak ipar saya jarang bermain di toko kain. Dia membeli bahan kain kebaya tile yang sama untuk kebaya pernikahannya sekaligus ibu dan besan. Ketika masuk ke designer, omelanlah yang kami dapatkan. Tapi karena designer yang dipakai kakak ipar saya cukup profesional juga, dia bersedia menemani mencari kain sebagai pengganti. Sayang dibuang, sisa kain yang seharusnya digunakan untuk kebaya pengantin akhirnya dibagi dua agar bisa dipakai untuk saya dan kakak perempuan dari kakak ipar. Huft..

Dua jam berkeliling, akhirnya saya mendapatkan kain yang saya inginkan. Kain tile cornelli berwarna putih tulang dengan harga yang cukup terjangkau. Saya sengaja mencari motifnya yang bagus dengan dasar tile yang biasa karena nanti motif tersebut saya minta untuk digunting dan ditempel di dasaran kain tile polos stretch. Motif dari tile tersebut saya ingin tempel penuh di kebaya dengan harapan kebaya terlihat penuh, dan tile stretch saya harapkan akan terlihat fit di tubuh saya. Tidak lupa perlengkapan lainnya seperti bahan satin untuk furing dan bahan satin bridal untuk bustier juga saya lengkapi.

Masih ada kain yang saya cari lagi, kain dengan nuansa toska, warna kesukaan saya yang rencananya akan saya gunakan untuk pakaian wisuda dan juga bisa dipakai sekaligus untuk acara midodareni. Saya memutuskan mencari bahan brokat, namun ternyata warna toska yang sesuai dengan keinginan saya sangat sulit didapatkan. Akhirnya saya menemukan setelah cukup berkeliling lagi, dan sedikit kecewa ketika saya melihat tile polos warna abu-abu muda yang motifnya lebih ciamik daripada yang sudah saya beli sebelumnya ada di toko tersebut. Walaupun harganya sedikit lebih mahal namun itu seperti yang saya inginkan. Apa daya saya harus merelakannya tidak bisa bersanding dengan badan saya nantinya.

Sudah cukup perjalanan kami hari itu,  bahan lain yang nantinya akan saya pakai untuk acara resepsi rencananya akan dicari di Mayestik Jakarta atau di Jogja saja tergantung adanya waktu dari nyonya besar atau tidak.

Siap ke mba Tiwi dengan tentengan ini deh~~

Yes, we do

Minggu, 23 Februari 2013

Seminggu setelah acara lamaran Aa Galih ke rumah, belum direncanakan kapan kepastian kunjungan balik dari keluarga saya ke rumahnya. Saat itu adalah saat-saat yang mendebarkan untuk Galih dan keluarganya, katanya sih. Padahal saat itu justru saya sedang santai-santainya. Hahaha, ternyata seru juga bikin Galih penasaran dan ketakutan gitu. 

Malam hari setelah sholat Isya', saya sekeluarga bersama beberapa oom akhirnya melakukan perjalanan ke kecamatan sebelah. Sesampainya di rumah Galih, dia sudah menunggu di depan rumah bersama orangtua dan para pakdhenya. Ekspresi wajahnya tidak bisa saya gambarkan, antara tegang dan harap-harap penuh kepastian, sementara saya cengengesan saja. :D

Basa-basi sebentar, ayah saya akhirnya berkata..
"Mengenai apa yang telah disampaikan seminggu yang lalu  tentang keluarga Galih yang telah melamar Sarah, malam ini kami sekeluarga datang ke sini untuk bersilaturahmi juga memberikan jawaban. Setelah meminta petunjuk dari Allah swt, insha Allah saya ikhlas untuk menjodohkan Sarah dan Galih menuju ikatan pernikahan."
Serempak terdengar "Alhamdulillaaahh" dari keluarga Galih. Ayahnya juga sempat berkata bahwa dia dan Galih seminggu ini makan tak nyenyak tidurpun tak nikmat. Hahaha :')))
Seharusnya memang di acara lamaran maupun kunjungan balasan adalah sekaligus penentuan tanggal pernikahan. Namun karena adanya lain dan suatu hal, tanggal pernikahan kami baru akan diputuskan beberapa bulan ke depan, sedangkan rencananya adalah di bulan syawal 2014. Insha Allah. 
Setidaknya masih ada cukup waktu untuk mempersiapkan keribetan pernikahan yang sama sekali belum dicicil ini. Nantikan laporannya dalam tulisan-tulisan setelah ini!

Udah lega kan a'? Yess, we do. :)

Rabu, 19 Februari 2014

The Proposal

Alhamdulillah ketika tulisan ini dibuat saya sudah tidak merasakan dag-dig-dug sekencang dua minggu terakhir. Setelah sekitar dua bulan yang lalu saya disidang oleh kedua orang tua Aa Galih, giliran dia yang disidang oleh orang tua saya. Tepatnya setelah selesainya tetek bengek urusan pernikahan kakak kandung saya.
"Kamu serius sama Sarah anak saya?"
Aduh papiiii, pake ditanyain. Saya cuma meringis kegirangan melihat muka Aa Galih yang menandakan ketegangannya.
"Iya bapak, saya serius."
Udah gitu aja jawabannya? Ternyata dia yang selama ini mampu membicarakan hal-hal apa saja dengan saya hingga saya yang kewalahan meladeninya tak mampu berkata apa-apa di depan ayah saya.
"Terus, kalau udah serius mau ngapain?"
Hayoh loh skakmat! Saya masih tertawa puas melihatnya, sampai pada detik ketika Aa Galih cukup lancar hingga dirinya tak terpojok lagi. Saya masih mendengar dia mengucapkan beberapa janji-janji dan rencana-rencana ke depan untuk kami. Hingga ayah saya kemudian berkata,
"Ya sudah kalau kamu sudah mau dan mampu menerima semua kekurangan putri saya dan mencintainya seutuhnya, Bapak ijinkan kamu dan keluarga untuk datang melamar Sarah"
Bukannya terharu seperti kalau saya sedang menyaksikan adegan-adegan semacam itu di televisi maupun secara langsung, tetapi saya malah ngikik-ngikik gak jelas. Ekspresi terlalu senang mungkin. :')Setelah bapak menyuruh saya mengambil kalender, akhirnya ditentukanlah kapan keluarga Aa Galih bisa datang ke rumah. Tepatnya tanggal 17 Februari, sekitar dua minggu setelah dia melamar saya di depan ayah seorang diri. Secara Islam, setahu saya laki-laki memang dianggap melamar jika sudah menyampaikan maksud untuk serius dengan seorang wanita kepada ayahnya, baik bersama keluarga maupun seorang diri.

Dua minggu menjelang acara inilah puncak dag-dig-dug saya dan Aa Galih. Tapi di sisi lain saya merasa saat itu adalah saat di mana Aa Galih lebih sering mengekspresikan perasaan sayangnya ke saya. Memang terlihat sekali perbedaannya karena selama ini Aa Galih adalah orang yang cukup dingin, tidak terbuka, dan yaaa terkesan cuek. Alhamdulillah yaaa.. :D

Acara yang diharapkan mulai sekitar pukul 19.30 mulai molor satu jam. Keluarga Galih baru cussmaricuss pada pukul delapan kurang. Saya yang sudah dipojokkan keluarga karena kengaretan mereka mulai panik. Nekat SMS Gina, adek Galih tapi ternyata nomernya tidak aktif. Akhirnya melakukan kenekatan lagi dengan menelepon Galih langsung. Saya sudah tidak peduli dinilai ngebet atau gak sabaran, yang terpenting adalah keluarga saya diam. Hahaha :'))
"Udah di alun-alun!"
Digalakin pula, positif thinking aja deh dia juga lagi grogi bin panik, pikir saya. Setelah lima menit kemudian keluarganya datang, hufft...... lega selega-leganya. Saya duduk manis di ruang tengah tidak boleh ikut mendengar acara tersebut kata ayah. Saya hanya keluar sebentar untuk bersalaman dan menyapa para tamu. 

Untuk acara lamaran ini, semua adalah urusan ayah saya. Termasuk ayah yang tidak mau menjawab langsung keluarga Galih yang telah datang. Rencananya seminggu kemudian giliran keluarga kami yang mendatangi rumah Galih untuk memberikan jawaban. Acara lamaran saya sendiri adalah sekedar acara sederhana kunjungan dari keluarga besar Aa Galih (semua pakde-- dan oomnya). Ayah ingin merasa lebih dekat dengan tidak perlu adanya susunan acara bertele-tele yang kadang malah membuat orang merasa terlalu serius.  

"Kok lama banget sih?"
Tanya saya ketika Galih sedang berjalan menuju meja makan. Dengan muka yang makin membuat saya menyayanginya dia bilang,
"Iya, aku tu pelan-pelan banget soalnya sambil mangkuin opor dan rica mentoknya!"
 Iya, dan dua jenis masakan tersebut adalah masakan spesial Mama Galih yang memang sudah digadang-gadang oleh ayah. Alhamdulillah acara malam itu berakhir dengan lancar, memberikan kelegaan bagi saya, dan masih memberikan rasadag-dig-dug tak karuan untuk Galih sampai seminggu ke depan.

See you in your home, beb! ;)

ps: Tidak ada foto yang layak dipublikasikan karena ketika saya 'paksa' Galih untuk berfoto, dia bilang "Nanti, nunggu resmi!" :(