"Kamu serius sama Sarah anak saya?"Aduh papiiii, pake ditanyain. Saya cuma meringis kegirangan melihat muka Aa Galih yang menandakan ketegangannya.
"Iya bapak, saya serius."Udah gitu aja jawabannya? Ternyata dia yang selama ini mampu membicarakan hal-hal apa saja dengan saya hingga saya yang kewalahan meladeninya tak mampu berkata apa-apa di depan ayah saya.
"Terus, kalau udah serius mau ngapain?"Hayoh loh skakmat! Saya masih tertawa puas melihatnya, sampai pada detik ketika Aa Galih cukup lancar hingga dirinya tak terpojok lagi. Saya masih mendengar dia mengucapkan beberapa janji-janji dan rencana-rencana ke depan untuk kami. Hingga ayah saya kemudian berkata,
"Ya sudah kalau kamu sudah mau dan mampu menerima semua kekurangan putri saya dan mencintainya seutuhnya, Bapak ijinkan kamu dan keluarga untuk datang melamar Sarah"Bukannya terharu seperti kalau saya sedang menyaksikan adegan-adegan semacam itu di televisi maupun secara langsung, tetapi saya malah ngikik-ngikik gak jelas. Ekspresi terlalu senang mungkin. :')Setelah bapak menyuruh saya mengambil kalender, akhirnya ditentukanlah kapan keluarga Aa Galih bisa datang ke rumah. Tepatnya tanggal 17 Februari, sekitar dua minggu setelah dia melamar saya di depan ayah seorang diri. Secara Islam, setahu saya laki-laki memang dianggap melamar jika sudah menyampaikan maksud untuk serius dengan seorang wanita kepada ayahnya, baik bersama keluarga maupun seorang diri.
Dua minggu menjelang acara inilah puncak dag-dig-dug saya dan Aa Galih. Tapi di sisi lain saya merasa saat itu adalah saat di mana Aa Galih lebih sering mengekspresikan perasaan sayangnya ke saya. Memang terlihat sekali perbedaannya karena selama ini Aa Galih adalah orang yang cukup dingin, tidak terbuka, dan yaaa terkesan cuek. Alhamdulillah yaaa.. :D
Acara yang diharapkan mulai sekitar pukul 19.30 mulai molor satu jam. Keluarga Galih baru cussmaricuss pada pukul delapan kurang. Saya yang sudah dipojokkan keluarga karena kengaretan mereka mulai panik. Nekat SMS Gina, adek Galih tapi ternyata nomernya tidak aktif. Akhirnya melakukan kenekatan lagi dengan menelepon Galih langsung. Saya sudah tidak peduli dinilai ngebet atau gak sabaran, yang terpenting adalah keluarga saya diam. Hahaha :'))
"Udah di alun-alun!"Digalakin pula, positif thinking aja deh dia juga lagi grogi bin panik, pikir saya. Setelah lima menit kemudian keluarganya datang, hufft...... lega selega-leganya. Saya duduk manis di ruang tengah tidak boleh ikut mendengar acara tersebut kata ayah. Saya hanya keluar sebentar untuk bersalaman dan menyapa para tamu.
Untuk acara lamaran ini, semua adalah urusan ayah saya. Termasuk ayah yang tidak mau menjawab langsung keluarga Galih yang telah datang. Rencananya seminggu kemudian giliran keluarga kami yang mendatangi rumah Galih untuk memberikan jawaban. Acara lamaran saya sendiri adalah sekedar acara sederhana kunjungan dari keluarga besar Aa Galih (semua pakde-- dan oomnya). Ayah ingin merasa lebih dekat dengan tidak perlu adanya susunan acara bertele-tele yang kadang malah membuat orang merasa terlalu serius.
"Kok lama banget sih?"Tanya saya ketika Galih sedang berjalan menuju meja makan. Dengan muka yang makin membuat saya menyayanginya dia bilang,
"Iya, aku tu pelan-pelan banget soalnya sambil mangkuin opor dan rica mentoknya!"Iya, dan dua jenis masakan tersebut adalah masakan spesial Mama Galih yang memang sudah digadang-gadang oleh ayah. Alhamdulillah acara malam itu berakhir dengan lancar, memberikan kelegaan bagi saya, dan masih memberikan rasadag-dig-dug tak karuan untuk Galih sampai seminggu ke depan.
See you in your home, beb! ;)
ps: Tidak ada foto yang layak dipublikasikan karena ketika saya 'paksa' Galih untuk berfoto, dia bilang "Nanti, nunggu resmi!" :(